Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

01 September 2025

Silat Minangkabau: Warisan Budaya, Kompetisi, dan Pendidikan di Era Modern

Silat Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan istilah silek merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang lahir dari ranah Minang, Sumatera Barat. Sebagai seni bela diri tradisional, silat Minangkabau tidak hanya memiliki nilai pertahanan diri, tetapi juga sarat dengan filosofi kehidupan dan adat istiadat masyarakat Minang.


Kebangkitan Silat Minangkabau di Ajang Kompetisi

Baru-baru ini, Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup I Tahun 2025 di Padang sukses digelar dengan partisipasi sekitar 580 pesilat dari berbagai kabupaten dan kota [Padang.go.id]. Ajang ini bukan hanya wadah kompetisi, tetapi juga momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat pelestarian silat sebagai identitas budaya Minangkabau.

17 Februari 2014

Tampilan Jepang Rasa Minang

Saat mengenakan suntiang, perempuan Minang berbunga-bunga. Ketika menyambangi Restoran Suntiang, hati siapa pun bisa berbunga-bunga.

MINANG yang kaya bumbu, Jepang yang lebih menon jolkan rasa orisinal bahan bahan yang digunakannya, bertemu di Suntiang. Dua kultur memasak yang kaya akan kisah itu berpadu harmonis di restoran yang terletak di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan.

Suntiang, dalam kultur Minang, merupakan sebutan bagi mahkota yang digunakan mempelai perempuan dalam upacara pernikahan. Suntiang itulah yang kemudian menjadi filosofi sekaligus nama restoran ini.

03 November 2013

Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau

Kerajaan Pagaruyung pada mulanya merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha. Pendirinya adalah Adityawarman yang merupakan utusan Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa. Dalam perkembangannya, kerajaan ini menjadi kesultanan yang mengambil banyak peran dalam Islamisasi tanah Melayu.

07 Juli 2013

Empat Jam Menikmati Minang

Jamuan ini sungguh istiwewa, bukan Cuma rasa dan tampilan yang dinikmati, melainkan juga kisah daya hidup petani dan tradisi lokal. Dua belut asap tampil utuh dengan kepala dan ekornya, tertata jelita di atas sebuah gelas mungil, berpadu dengan sambal balado merah menantang. Menyusul emping belinjo, dengan lebar diatas rata-rata yang menjadi alas rerumput rendang runtiah sebutan buat potongan rendang yang sudah tersuwir.

Novi Kusuma menikmatinya sembari berbincang dengan Lisa Virgiano, sang pengagas acara malam itu. “Belut asap ini jelsas organic karena belut ini diambil dari sawah-sawah penduduk dan sulit hidup di daerah yang tercemar. Sama seperti emping melinjo ini, di Sumatera Barat, sebagian besar emping diolah dari buah-biah yang jatuh dan dipanen dari halaman rumah perajinnya,” cerita Lisa yang menyebut Maharasa Indonesia sebagai proyek gabungan pecinta dan praktisi kuliner berwujud jamuan makan malam berbasis pangan dan tradisi lokal.