27 September 2014

Paris tidak Romantis bagi Turis Tiongkok

SEBELUM tiba di ibu kota Prancis, Shuyun Wu, seorang ibu rumah tangga Tiongkok yang berusia 56 tahun, membayangkan Paris sebagai kota bersih, indah, dan romantis, seperti yang ditunjukkan dalam film. Namun, ia justru dikejutkan oleh puntung rokok dan kotoran anjing di berbagai sudut. Masyarakat setempat pun tak acuh atas aksi serampangan itu.

Meskipun teman-teman telah memperingatkan tentang pencuri terhadap turis `Negeri Tirai Bambu', ia semakin terkejut ketika anggota kelompok turnya dirampok oleh gembong perampok yang telah membidik dalam kendaran. “Bagi warga Tiongkok, Prancis selalu romantis dan misterius,“ kata Wu setelah tur selama dua minggu, termasuk mengunjungi menara Eiffel dan Galeri Lafayette.

“Begitu saya sadar bahwa penduduk Paris ternyata tak acuh, saya membuat keputusan untuk segera menyudahi tur ini ` dan tidak pernah kembali ke Paris lagi,“ tambahnya.

Seorang penjabat industri pariwisata Tiongkok menjelaskan wisatawan `Negeri Panda' yang datang ke Paris biasanya membawa uang tunai dalam jumlah banyak, dan tidak bisa bahasa setempat.
Mereka juga berlaku naif tentang gaya hidup Barat sebagai buah dari isolasi diri yang terjadi di negaranya, beberapa dekade lalu. Di samping itu, mereka mudah dikenali sebagai turis Asia.
“Faktor-fraktor inilah yang menjadikan wisatawan Tiongkok menjadi korban pencurian yang kejam di sini (Prancis),“ ujar sang pejabat.

Ancaman kejahatan itu akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah yang berkantor pusat di Beijing. Bahkan baru-baru ini, sang regulator mengirimkan para polisi ke sana guna membantu warganya yang sedang berwisata di negara terluas di Eropa itu.

Dampaknya, menurut data European Federation of Chinese Tourism, ialah penurunan jumlah turis Tiongkok hingga 20% dari akhir tahun lalu. Sejumlah merek-merek mewah dan berkelas di `Negeri Mode' itu, seperti Louis Vuitton, Chanel, dan Hermes menyatakan banyak wisatawan Tiongkok pergi berbelanja ke Italia dan Inggris karena takut dan merasa tidak aman berbelanja di sana.

Padahal, sesuai catatan Paris Tourism Office, hampir 1 juta wisatawan Tiongkok datang ke Paris tahun lalu. Mereka menghabiskan lebih dari 1 miliar euro atau setara Rp15 triliun untuk berbelanja barang seperti jam tangan Cartier, makan di restoran berbintang Michelin, dan berbelanja barang lainnya.

“Wisatawan Tiongkok tertarik datang ke Paris karena glamor dan romantis, tapi sekarang mereka takut untuk datang dan akan berpikir dua kali untuk datang,“ jelas Pierre Shi, Sekretaris Jenderal European Federation of Chinese Tourism. (NYTimes/Rizky Noor Alam/E-5) Media Indonesia, 23/09/2014, halaman 17