09 November 2013

Senin Yang Mengharukan Desri Ayunda

Senin, 4 November 2013, saya bersama Prof. H. James Hellyward tidak ke mana-mana. Sejak pagi, kami bersama para relawan berkumpul di Rumah Pemenangan DeJe, eks Hotel Mayang Sari, Jalan Sudirman, menyiapkan segala sesuatu untuk sidang pleno KPU Padang tentang hasil penghitungan suara yang diperoleh.

Di sela-sela persiapan, nada telepon genggam kami, nyaris tiada henti berbunyi dari banyak orang untuk memberi ucapan selamat. Begitu juga dengan pesan singkat yang masuk, tiada jeda waktu langsung kami balas. Terima kasih. Mohon dukungan untuk putaran kedua.

Meski penghitungan suara belum dimulai, di atas kertas berdasarkan surat C-1, berita acara penghitungan di TPS yang dibawa para saksi DeJe, kami meraih 59.845 suara atau 19,11 persen. Hasil resminya, kami ketahui jelang pukul 23.00 WIB, setelah Ketua Tim Advokasi Pasangan DeJe, Virza Benzani, dan rombongan membawa berita acara rapat pleno KPU dari Hotel Inna Muara.

Ada rasa haru yang menyesak di dada kami berdua bersama para relawan di tengah derasnya hujan yang membasahi Padang malam itu. Ketika kami mengucapkan kalimat toyyibah atas hasil yang disampaikan. Tanpa terasa bulir air mata di antara banyak kami meleleh di pipi.

Bagi kami, lolos masuk putaran kedua, adalah sebuah kesempatan untuk mewujudkan banyak harapan warga, bagaimana kota ini dan kehidupan mereka lebih baik. Tidak amburadul, kacau balau, seperti kejadian saat ini.

Kota Padang, tidak saja setelah pascagempa 2009, tapi setidaknya pada satu dasawarsa ini, nyaris tidak lagi punya citra sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat. Sudah menjadi perbandingan jamak, Padang tercecer dengan ibukota provinsi lain di Sumatera ini. Jangan ambil perbandingan Medan atau Palembang, dengan Pekanbaru dan Jambi atau dengan kota/kabupaten tetangga di Selatan, Utara dan Timur, kita kalah.

Saya lama merenung, mengapa Padang seperti ini. Sepuluh tahun yang lalu, sebagai urang Padang, yang lahir dan dibesarkan di Tabiang Koto Tangah, emosi saya tidak menerima keadaan ini. Begitu juga dengan mandan saya, ini panggilan keakraban kami, Prof. James Hellyward, anak Lubuak Bagaluang, punya satu pandang yang sama untuk Padang ke depan.

Saya, dan juga mandan saya, ingin memajukan Padang. Bukankah ilmu pengetahuan yang saya terima sewaktu diundang untuk ikut Lemhanas 2000, memberi banyak cakrawala untuk menata kota ini melalui prinsip-prinsip ilmu pemerintahan dan tata kelola kota yang baik. Tapi keinginan saya itu tertunda. Meski banyak pihak waktu itu berharap kepada saya untuk maju, ibu saya (kami memanggilnya mama), mengatakan, "jan dulu. Agiah lahnyo kesempatan, Restu orang tua bagi saya adalah mutlak.

Desember 2012, ketika pertanyaan yang sama saya ulangi lagi, ibu mengatakan, siapkanlah diri Sejak itulah, bersama kawan-kawan dan tokoh masyarakat di Padang, saya menyampaikan keinginan ini, tentu juga dengan segala rencana yang saya siapkan. Sampai kemudian kami berpasangan, visi-misi masing-masing kami pun digodok untuk diperkuat. Dukungan berbagai kalangan, dari perguruan tinggi dan tokoh masyarakat kota ini mengalir begitu kuat.

Banyak orang, dari berbagai elemen masyarakat, menghantarkan diri tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan sesuatu, siap membantu pemenangan kami. Hingga akhirnya kami maju melalui jalur perseorangan. Belakangan, setelah deklarasi, partai reformasi, PDI Perjuangan dan partai bersih menurut ICW, Partai Hanura, mendukung langkah kami.

Kilas balik ini, sengaja kami sampaikan karena belakangan banyak kampanye hitam tentang sosok kami. Ada yang menyebut kami hanya pandai bernyanyi. Mau dibawa kemana kota ini kalau dipimpin oleh orang yang kerjanya bernyanyi?

Kami juga dituding anti Pesantren Ramadhan, anti zakat, akan melonggarkan judi dan bersikap memberi kebebasan tanpa jilbab serta hal-hal lain yang bertolak belakang dengan keadaan baik yang telah ada sekarang. Malah, saya dituding punya tempat hiburan karaoke di Padang. Prof. H. James Hellyward dituding non muslim.

Cerita-cerita seperti ini jelas fitnah. Semoga mereka yang berkoar-koar tentang kebohongan ini diampuni dosanya oleh Allah SWT.

Bagi kami, membangun Padang ke depan, tidak sekadar fisiknya saja. Tapi juga warga kotanya. Untuk apa membangun fisik kota kalau keluh kesah warga yang kami terima. Kehidupan warga kota harus nyaman, aman dan tidak terbebani oleh persoalan kota ini. Carut marut kota ini sudah masuk fase stadium dan mengganggu kepada kehidupan ekonomi warga kota. Itulah sebabnya kami maju karena amanah rakyat dan didukung sejumlah partai.

Kami tidak mau membungkus janji untuk sesuatu yang tidak pasti. Bagi kami, dukungan dari pemilih hingga lolos ke putaran dua adalah pengharapan mereka untuk sebuah perubahan. Perubahan, seperti dikatakan pakar manajemen Rhenald Khasali hanya dapat dilakukan oleh orang-orang cerdas dan tidak berpikiran sempit. sumber:zamrudtv.com