03 November 2013

Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau

Kerajaan Pagaruyung pada mulanya merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha. Pendirinya adalah Adityawarman yang merupakan utusan Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa. Dalam perkembangannya, kerajaan ini menjadi kesultanan yang mengambil banyak peran dalam Islamisasi tanah Melayu.

Bermula pada Ekspedisi Pamalu Majapahit, Adityawarman diutus ke Dharmasraya untuk kemudian menjadi penguasa disana. Saat itu, Dharmasraya telah jatuh ke tagan Kesultanan Aru Barumun, sebuah kerajaan syiah yang lepas dari Kesultanan Samudra Pasai.
Seperti diketahui, Dharmasraya merupakan penguasa Melayu menggantikan kerajaan Sriwijaya. Adapun Ekspedisi Pamalayu awal mulanya dilakukan Kerajaan Singasari. Kata Pamalayu sering sekali dimaknai "Perang Melawan Melayu".

Menurut artikel "Kerajaan Pagaruyung" dalam arti Melayu Online, ekspedisi inilah yang mengawali berdirinya Kerajaan Pagaruyung. Ekspedisi yang membuahkan hasil gemilang tersebut membawa Adityawarman pada kesuksesan monopoli rempah yang sebelumnya dikuasai Kesultanan Aru Barumun.
Dalam waktu singkat Adityawarman pun berhasil menguasai daerah perdagangan lada di Sungai Batanghari. Bahkan, ia juga menyatakan diri sebagai raja dari kerajaan di Swarnnabhumi (Sumatra). "Suksesnya misi ekspedisi Pamalayu jilid 2 membuat Adityawarman kini mutlak sebagai penguasa di tanah Melayu. Daerah kekuasaannya kini meliputi seluruh Alam Minangkabau, bahkan sampai ke daratan. Pusat pemerintahanpun dipindahkan lebih masuk ke pedalaman Alam Minangkabau, tidak lagi di Rantau Minangkabau," dikutip dari Melayu Online.

Dalam perkembangannya Kerajaan Dharmasraya pun berubah menjadi Kerajaan Pagaruyung Sang pendiri Adityawarman menjadi raja pertama. Ia bahkan mendapatkan gelar tertinggi yakni "Maharajo Dirajo" (Maharajadiraja). Ia pun membangun kerajaang dengan gemilang.

Berdasarkan artikel "Kerajaan Pagaruyung" dalam lamina indonesiaindonesia, sebelum Kerajaan Pagaruyung berdiri, sebenarnya masyarakat di Minangkabau seudah memiliki sistem politik semacam konfederasi yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (suku Minang).

Menjadi Kesultanan.
Pada 1375, Adityawarman menemui ajalnya. Kerajaan Pagaruyung seakan hilang dari sejarah hingga kemudian, Islam mengambiul alih kerajaan Buddha itu. Sultan Alif Khalifatullah yang menjadi raha pada 1560 memeluk agama Islam. Islamnya sang sultan mengubah semua sistem kerajaan menjadi berbentuk kesultanan. Lahirlah Kesultanan Pagaruyung yang kental dengan nuansa Islam.

Kesultanan Pagaruyung pun membawa pembaharuan bagi Sumatra. Banyak aturan adat yang dihapus karena bertentangan dengan syariat Islam. Perubahaj tersebut pun makin menjadi di Pagaruyung ketika tiga orang ulama datang dari Makkah 1803. Ketiganya yakni Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik. Dikemudian hari proses ini membawa perpecahan bagi Minang hingga muncul Perang Padri.


Sumber Media Cetak : Republika, 3 November 2013.