07 Juli 2013

Empat Jam Menikmati Minang

Jamuan ini sungguh istiwewa, bukan Cuma rasa dan tampilan yang dinikmati, melainkan juga kisah daya hidup petani dan tradisi lokal. Dua belut asap tampil utuh dengan kepala dan ekornya, tertata jelita di atas sebuah gelas mungil, berpadu dengan sambal balado merah menantang. Menyusul emping belinjo, dengan lebar diatas rata-rata yang menjadi alas rerumput rendang runtiah sebutan buat potongan rendang yang sudah tersuwir.

Novi Kusuma menikmatinya sembari berbincang dengan Lisa Virgiano, sang pengagas acara malam itu. “Belut asap ini jelsas organic karena belut ini diambil dari sawah-sawah penduduk dan sulit hidup di daerah yang tercemar. Sama seperti emping melinjo ini, di Sumatera Barat, sebagian besar emping diolah dari buah-biah yang jatuh dan dipanen dari halaman rumah perajinnya,” cerita Lisa yang menyebut Maharasa Indonesia sebagai proyek gabungan pecinta dan praktisi kuliner berwujud jamuan makan malam berbasis pangan dan tradisi lokal.

Novi yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, yang mengaku sempat bersiasat terlebih dahulu dengan lalu lintas, langsung mengiyakan ajakan kerabatnya untuk bergabung dalam jamuan seharga Rp 850.000. “Indonesia sungguh kaya kuliner dan kulturnya, banyak sekali yang belum terdokumentasi dan diketahui publik. Jika bukan kita yang mengenalinya, siapa lagi?” ujar pebisnis itu.

Setelah menikmati aneka penganan kecil, pada pukul tujuh malam jamuan makan di Meseum Akili, Kedoya, Jakarta Barat, itu pun dimulai. Novi bergabung dengan 29 tamu lainnya. Acara malam itu bertema Magnificent Minang, maka tentu saja ada rendang, ayam pop, hingga sambal balado disajikan. “Bahan pangan yang kita santap ini kita sebut artisanal, bukan produksi pabrik atau industry, lekat dengan sumber daya lokal, petani, peternak dan nelayan tradisional.” Cerita Lisa diikuti pramusaji yang susul menyusul membawa piring-piring yang memajang karya koki Adzan Tri Budiman dan Ragil Imam Wibowo yang ditata cantik layaknya di acara fine dinning.

Pangan Artisan.
Di sela-sela itu, rendang yang dimasak dengan kayu bakar di rumah produk rendang Uni Farah milik Reno Andam Sari pun turut dihidangkan. Bukan Cuma bersantap, Lisa bergantian dengan mitranya di Maharasa Indonesia, Helianti Hilman dan Mei Batubara, bercerita tentang asal usul bahan pangan itu diperoleh, proses pengolahannya yang masih tradisional, hinggan tradisi di baliknya.

Beberapa gambar dan video juga turut diputar. “Tahukah bapak-Ibu, kalau gula yang direkomendasikan oleh Bank Dunia ialah jenis palm sugar, yang di Indonesia kita punya sangat banyak jenis dan jumlahnya, karena saat dipanen tak perlu menebang pohonnya tak seperti gula putih. Secara kultur awalnya nenek moyang kita hanya kenal gula aren atau kelapa, dengan manfaat kesehatannya pun sudah teruji,” kata Helianti yang juga pemilik merek pangan organik Javara.
Maka, di meja pun kemudian dihidangkan aneka gula palem karya para petani dan pembudi daya dari berbagai pelosok Nusantara. “ Nah yang itum sebelum dikeluarkan airnya, harus dipiit-pijit dulu lo, coba rasakan manisnya, “ kata Helianti disambut gelak tawa peserta jamuan makan yang tampil dalam baluta pakaian formal itu.

Sekilas Info: Perjalanan wisata menggunakan sewa mobil Padang bisa anda dapatkan bersama kami.

Selama tiga malam berturut-turut, gelaran makan malam berbalut cerita itu digelar. Lisa mengaku belum bisa memastikan kapan acara serupa akan digelar walaupun tak pernah ada kursi yang kosong.
“Karena sebagian besar bahan pangan juga kita datangkan langsung dari petaninya, termasuk dadiah atau yoghurt dari susu kerbau. Kalau kita bicara soal perlakuan yang baik pada hewan, saat meriset kesana saya lihat langsung bagaimana peternak di tanah Minang menyediakan tanah yang begitu lapang sebagai tempat tinggal yang nyaman buat kerbanynya agar susunya bisa melimpah. Karena itu, kita sangat bergantung pada kesiapan mereka, “ kata Lisa.

Dadiah itu kemudian hadir dalam kari kerang panggan, menjadi bagian dari makan malam selama lebih dari 4 jam itu. Durasi yang lama itu bukan Cuma karena makanan yang datang silih berganti, melainkan karena diskusi terus berlangsung seru hingga malam kian larut.
Sumber Media Indonesia Minggu, 7 Juli 2013.