08 November 2014

Kuota BBM Bersubsidi Tinggal 13,9 Persen

REALISASI konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir Oktober 2014 mencapai 39,07 juta kl atau 86,1 persen dari alokasi kuo ta BBM bersubsidi 2014. Berdasarkan APBN-P 2014, kuota BBM bersubsidi dikurangi dari 48 juta kl menjadi 46 juta kl. Dengan demikian, kuota BBM bersubsidi hingga akhir 2014 tersisa 6,93 juta kl atau 13,9 persen dari jumlah alokasi kuota BBM bersubsidi 2014.

Berdasarkan data realisasi penyaluran BBM bersubsi di hingga 31 Oktober 2014, premium telah tersalurkan sebanyak 24,92 juta kl atau 85,1 persen terhadap kuota. Realisasi penyaluran solar pada periode yang sama mencapai 13,38 juta kl atau 88,2 persen terhadap kuota Pertamina.

Namun, Pertamina akan terus berupaya menjaga stok BBM bersubsidi hingga akhir 2014. Saat ini stok premium cukup untuk 16 hari, minyak solar 19,8 hari, sedangkan stok pertamax cukup untuk 36,7 hari, pertamax plus 31,7 hari, dan pertamina dex 88,7 hari.

“Pertamina menjamin stok BBM sangat aman dan masyarakat diharapkan membeli BBM sesuai kebutuhan normal saja,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir.

Pemerintah diharapkan segera memutuskan penaikan harga BBM bersubsidi karena semakin menipisnya sisa kuota BBM subsidi, yakni hanya tinggal 6,3 juta kl hingga akhir tahun.

Pengamat energi dari Reforminer Komaidi Notonegoro melihat masyarakat meningkatkan pembelian BBM subsi di karena informasi kenaikan harga yang belum juga ditetapkan. “Harusnya segera diputuskan (penaikan harga BBM subsidi) agar ada ruang gerak untuk penambahan kuota,” ujar Komaidi saat dihubungi, kemarin.

Apabila tidak segera ditetapkan dan kuota semakin menipis, masyarakat mau tidak mau harus menggunakan BBM nonsubsidi hingga akhir tahun.

Wakil Ketua Komite Hulu Migas Kadin Indonesia Firlie Ganinduto menilai melonjaknya permintaan harus dili hat pula dari sisi produksi yang belum optimal. “Kita harus melihat industri secara keseluruhan, tidak bisa kita salahkan industri hulu saja.
Infrastruktur hilir dan kapasitas kilang yang minim juga menjadi penyebab kurang maksimalnya penyerapan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri,” ujar Firlie, kemarin. (Jes/Mus/Wib/X-7) Media Indonesia, 6/11/2014, halaman 2